Blog

October 13, 2026

3 Pelajaran Parenting untuk Membantu Ayah Bunda Memahami Emosi dan Perilaku Anak

3 Pelajaran Parenting untuk Membantu Ayah Bunda Memahami Emosi dan Perilaku Anak

Ayah Bunda, pernah enggak merasa sudah berusaha menjadi orang tua yang baik, tetapi tetap saja ada momen ketika kita kehilangan kesabaran menghadapi anak? Misalnya, saat Ananda sulit diberi tahu, menangis karena hal kecil, atau justru menolak melakukan sesuatu yang menurut kita sederhana.

Dalam situasi seperti itu, kita mungkin langsung berpikir bahwa anak perlu lebih disiplin atau belajar mendengarkan orang tua. Namun, pernahkah Ayah Bunda mencoba melihat situasi tersebut dari sudut pandang anak?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu inti pembahasan dalam buku The Book You Wish Your Parents Had Read (And Your Children Will Be Glad That You Did) karya psikoterapis asal Inggris, Philippa Perry.

Buku ini mengajak orang tua memahami bahwa pola asuh bukan hanya tentang bagaimana membuat anak berperilaku baik, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan yang sehat, memahami emosi, dan menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman.

Menariknya, Ayah Bunda tidak harus menjadi orang tua yang sempurna untuk menerapkan pelajaran dari buku ini. Justru, kita diajak menyadari bahwa cara kita merespons anak sehari-hari bisa memberikan pengaruh besar terhadap hubungan yang terbangun dengannya.

Cara sederhana mendampingi anak mengelola perasaannya

Lantas, apa saja pelajaran parenting yang bisa kita terapkan? Yuk, bahas satu per satu!

1. Kenali pola asuh yang kita bawa dari masa kecil

Ayah Bunda, tanpa disadari, pengalaman masa kecil bisa memengaruhi cara kita membesarkan anak saat ini.

Misalnya, dahulu kita terbiasa dimarahi ketika melakukan kesalahan. Ketika sudah menjadi orang tua, kita mungkin secara spontan melakukan hal yang sama kepada Ananda, terutama saat sedang lelah atau emosi.

Bukan berarti kita sengaja ingin menyakiti anak. Terkadang, kita hanya mengulangi pola yang sudah akrab sejak kecil karena itulah cara yang pernah kita kenal.

Philippa Perry mengajak orang tua untuk mengenali pengaruh pengalaman masa lalu terhadap cara kita membangun hubungan dengan anak. Dengan memahami pola tersebut, kita bisa mulai memilih respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak saat ini.

Coba bayangkan ketika Ananda menumpahkan minuman di meja. Alih-alih langsung membentak karena rumah menjadi berantakan, Ayah Bunda bisa berhenti sejenak, mengatur emosi, lalu mengajaknya membersihkan tumpahan bersama.

Respons sederhana ini bukan berarti membiarkan anak melakukan kesalahan. Kita tetap mengajarkan tanggung jawab, tetapi tanpa harus membuat anak merasa takut atau malu.

Jadi, sebelum bereaksi terhadap perilaku anak, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah respons ini benar-benar dibutuhkan dalam situasi sekarang, atau justru muncul karena kebiasaan yang kita bawa dari masa lalu?

2. Pahami perasaan anak sebelum mengoreksi perilakunya

Pernahkah Ananda menangis karena mainannya tidak sesuai keinginan, lalu kita spontan berkata, “Begitu saja kok menangis?”

Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, bagi anak, perasaan kecewa yang muncul bisa terasa begitu besar. Anak juga masih belajar mengenali emosinya dan menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkannya.

Dalam bukunya, Perry menekankan pentingnya memahami pengalaman emosional anak dan membangun hubungan yang membuat mereka merasa didengar.

Artinya, ketika anak sedang kesal, sedih, atau kecewa, Ayah Bunda tidak harus langsung memberikan nasihat panjang. Terkadang, langkah pertama yang dibutuhkan adalah hadir, mendengarkan, dan membantu anak memahami apa yang sedang dirasakannya.

Misalnya, Ananda marah karena waktu bermain sudah habis. Ayah Bunda bisa mengatakan, “Kamu masih ingin bermain, ya? Rasanya memang menyenangkan kalau bisa lanjut. Tapi sekarang waktunya berhenti dulu.”

Kalimat seperti ini membantu anak merasa bahwa emosinya dipahami, sekaligus tetap mengenalkan batasan yang perlu dipatuhi.

Perlu diingat, memahami emosi bukan berarti menyetujui semua perilaku anak. Ayah Bunda tetap bisa melarang tindakan yang menyakiti orang lain atau merusak barang, sambil membantu anak menemukan cara yang lebih tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak memiliki kesempatan untuk belajar bahwa marah, sedih, dan kecewa merupakan bagian dari kehidupan. Yang perlu dipelajari bukan bagaimana menghilangkan semua emosi tersebut, melainkan bagaimana mengelolanya dengan baik.

3. Hubungan yang aman lebih penting daripada menjadi orang tua sempurna

Ayah Bunda, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Kita ingin mereka tumbuh mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi berbagai tantangan.

Namun, keinginan tersebut terkadang membuat kita merasa harus selalu melakukan semuanya dengan benar. Ketika terlanjur membentak atau kehilangan kesabaran, kita mungkin merasa bersalah dan menganggap diri sendiri gagal menjadi orang tua.

Padahal, hubungan orang tua dan anak bukan tentang bagaimana menghindari setiap kesalahan, melainkan juga tentang bagaimana memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.

Salah satu pesan penting dalam pendekatan Philippa Perry adalah bahwa hubungan yang dibangun melalui respons dan interaksi sehari-hari memiliki peran besar dalam pengalaman anak bersama orang tuanya.

Bayangkan suatu hari Ayah Bunda terlanjur membentak Ananda karena kesalahan kecil. Setelah lebih tenang, kita bisa menghampirinya dan berkata, “Tadi Ayah atau Bunda bicara terlalu keras. Maaf, ya. Seharusnya kita bisa membicarakannya dengan lebih tenang.”

Permintaan maaf seperti ini tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Sebaliknya, anak mendapat contoh nyata bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan berusaha memperbaiki keadaan.

Tentu saja, meminta maaf bukan berarti semua aturan harus dihapus. Ayah Bunda tetap perlu memberikan batasan yang jelas, tetapi batasan tersebut bisa disampaikan dengan tetap menghormati perasaan anak.

Jadi, kita tidak perlu menunggu sampai menjadi orang tua yang sempurna untuk membangun hubungan yang baik dengan Ananda. Kita bisa memulainya dari hal sederhana, seperti mendengarkan dengan lebih sabar, mengakui kesalahan, dan berusaha merespons anak dengan lebih bijak.

Parenting bukan tentang menjadi sempurna, tetapi terus belajar

Ayah Bunda, tiga pelajaran dari buku The Book You Wish Your Parents Had Read mengingatkan kita bahwa mengasuh anak bukan sekadar mengajarkan aturan atau membentuk perilaku. Ada hubungan, pengalaman emosional, dan pola komunikasi yang ikut membentuk cara anak memahami dirinya serta orang-orang di sekitarnya.

Mengenali pola asuh dari masa lalu membantu kita lebih sadar terhadap respons yang diberikan. Memahami emosi anak membuat kita tidak terburu-buru menghakimi perilakunya. Sementara itu, kesediaan memperbaiki hubungan mengajarkan anak bahwa kasih sayang dan tanggung jawab bisa berjalan beriringan.

Tentu, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Tidak semua pendekatan akan memberikan hasil yang sama dalam setiap situasi. Karena itu, Ayah Bunda tetap perlu mengamati kebutuhan Ananda dan menyesuaikan cara mendampinginya.

Pada akhirnya, kita tidak harus selalu memiliki jawaban untuk setiap persoalan anak. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mendengarkan, lalu belajar bersama.

Sebab, bagi anak, pengalaman sehari-hari bersama orang tua bukan hanya tentang aturan yang harus diikuti, tetapi juga tentang bagaimana rasanya didengarkan, dipahami, dan diterima.

Dan mungkin, salah satu hal terbaik yang bisa kita berikan kepada Ananda bukanlah pola asuh yang sempurna, melainkan hubungan yang terus kita rawat dengan penuh kesadaran, kepedulian, dan kemauan untuk belajar.


Penulis: Radifan Cakra — Tata Usaha (TU)

Your Next Read
Loading...