Blog
October 15, 2026
Anak Pintar Bukan Cuma soal Nilai, Ini 5 Prinsip Parenting untuk Menyiapkan Masa Depan Anak

Dari juara kelas hingga skor PISA, arti “anak pintar” terus berubah mengikuti zaman. Lima fondasi pengasuhan dari buku The 5 Principles of Parenting membantu Ayah Bunda menyiapkan Ananda menghadapi masa depan.
Ayah Bunda, kalau berbicara tentang anak pintar, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin anak yang selalu menjadi juara kelas, mendapat peringkat teratas di rapor, atau meraih nilai ujian paling tinggi. Pada era 1980-an dan 1990-an, ukuran anak pintar memang masih identik dengan pencapaian akademik seperti ini. Tidak heran kalau Ayah Bunda merasa bangga ketika nama Ananda dipanggil ke depan karena prestasinya.
Memasuki tahun 2000-an, Ujian Nasional menjadi salah satu penentu keberhasilan siswa. Selama hampir dua dekade, banyak keluarga mengukur pencapaian anak dari angka yang tertera pada lembar hasil ujian. Hal ini juga terlihat dari semakin banyaknya bimbingan belajar yang tumbuh di berbagai sudut kota.
Namun, seiring berjalannya waktu, cara pandang terhadap kecerdasan anak mulai berubah. Pada 2021, Ujian Nasional resmi digantikan oleh Asesmen Nasional. Fokus pendidikan pun mulai bergeser pada kemampuan bernalar, literasi, dan karakter siswa.
Lalu, bagaimana dengan kemampuan anak Indonesia saat ini? Data menunjukkan bahwa masih ada tantangan yang perlu diperhatikan. World Bank memperkirakan 53% anak Indonesia pada akhir usia sekolah dasar belum mampu memahami teks sederhana. Sementara itu, PISA 2022 mencatat hanya 25% siswa berusia 15 tahun yang mencapai kemampuan membaca minimum. Dalam matematika, angkanya bahkan hanya 18%.
Data ini menunjukkan bahwa nilai rapor dan kemampuan menghafal saja belum cukup untuk menggambarkan kesiapan anak menghadapi masa depan. Anak pintar zaman sekarang juga perlu mampu mengelola diri, bangkit dari kegagalan, bekerja sama, dan tetap bersikap baik ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Nah, kemampuan tersebut tidak hanya dipelajari di sekolah, lho, Ayah Bunda. Justru, rumah menjadi salah satu tempat pertama bagi anak untuk belajar mengelola emosi, membangun hubungan, dan menghadapi berbagai tantangan.
Prinsip parenting untuk mendukung tumbuh kembang ananda
Pada 2024, psikolog perkembangan Aliza Pressman menerbitkan buku best seller berjudul The 5 Principles of Parenting. Melalui buku ini, ia merangkum riset selama puluhan tahun menjadi lima fondasi pengasuhan yang bisa diterapkan oleh berbagai keluarga, termasuk di Indonesia.
Relationship: Rumah sebagai tempat aman untuk pulang.
Ketika Ananda kalah lomba atau belum berhasil mencapai targetnya, apa yang pertama kali kita berikan? Pelukan dan dukungan, atau langsung mengevaluasi kesalahannya?
Anak akan lebih berani menjelajahi dunia ketika ia tahu ada tempat aman untuk kembali. Karena itu, dukungan dan pelukan bisa hadir lebih dulu sebelum Ayah Bunda mengajak Ananda mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki. Rumah yang hangat dan nyaman menjadi fondasi penting bagi anak untuk tumbuh dan mengejar berbagai pencapaian.
Reflection: Kenali diri sendiri sebagai orang tua.
Ayah Bunda, pernahkah kita menyadari bahwa reaksi terhadap anak terkadang dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil kita sendiri? Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali pemicu emosi dan memahami pola pengasuhan yang terbentuk sejak dahulu.
Sebelum menjadi orang tua, kita juga pernah menjadi anak. Bisa jadi, ada pengalaman masa kecil atau childhood wound yang belum sepenuhnya kita pahami dan masih memengaruhi cara kita mengasuh Ananda. Dengan mengenali pola tersebut, kita bisa lebih sadar dalam merespons perilaku anak.
Regulation: Tenangkan diri sebelum merespons anak.
Anak-anak masih belajar mengenali dan mengelola emosinya. Dalam proses ini, mereka membutuhkan orang dewasa yang bisa membantu memberikan rasa aman dan ketenangan. Para ahli menyebut proses ini sebagai co-regulation.
Jadi, ketika Ananda sedang marah atau kecewa, kita bisa membantunya menghadapi perasaan tersebut dengan tenang. Bukan berarti semua perilaku anak harus dibiarkan. Setiap perasaan boleh hadir, tetapi perilaku tetap memiliki batas. Kuncinya adalah bagaimana Ayah Bunda merespons situasi dengan tenang.
Rules: Tetapkan batasan yang jelas.
Aturan tentang waktu tidur, penggunaan gawai, screen time, dan tugas rumah membantu Ananda memahami tanggung jawabnya. Dengan batasan yang jelas, anak juga memiliki panduan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Aturan bisa ditetapkan sejak awal tanpa harus disertai ancaman. Ayah Bunda juga bisa menyepakatinya bersama seluruh anggota keluarga agar penerapannya konsisten, bukan hanya berlaku bagi anak.
Repair: Berani memperbaiki kesalahan.
Sebagai orang tua, kita juga bisa kehilangan kesabaran. Saat terlanjur membentak Ananda, misalnya, kita bisa mengakui kesalahan dengan mengatakan, “Tadi Bunda berteriak. Itu tidak tepat. Aturannya tetap, dan Bunda minta maaf atas caranya.”
Dari sini, anak belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki. Pelajaran ini akan berguna ketika ia berinteraksi dengan teman di kelas, bekerja sama dengan orang lain saat dewasa, hingga membangun keluarganya kelak. Meminta maaf dan mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, melainkan tindakan berani.
Lima fondasi ini juga memiliki batas. Pengasuhan yang baik tidak menggantikan kebutuhan akan gizi, layanan kesehatan, atau sekolah yang bermutu. Pressman sendiri menegaskan bahwa tidak ada satu cara pengasuhan yang benar untuk semua keluarga. Parenting bukan pendekatan one-size-fits-all. Setiap anak dan keluarga memiliki kondisi yang berbeda, meskipun prinsip dasarnya sama.
Ada kabar baik yang patut diperhatikan. PISA mencatat keterlibatan orang tua di Indonesia dalam membicarakan kemajuan anak bersama guru meningkat dari 2018 ke 2022. Hal ini menjadi tanda positif bahwa kemitraan antara rumah dan sekolah semakin berkembang.
Di Prestasi Global, kemitraan tersebut juga dibangun melalui pendekatan yang sejalan. Dalam keseharian, guru berupaya membedakan emosi dan perilaku anak, menetapkan batasan tanpa mempermalukan mereka di depan kelas, serta memberikan ruang bagi Ananda untuk memperbaiki kesalahan dan belajar meminta maaf.
Pada akhirnya, arti anak pintar akan terus berubah mengikuti zaman. Namun, lima fondasi pengasuhan ini bisa menjadi pijakan penting bagi Ananda untuk menghadapi masa depan.
Yuk, Ayah Bunda, terus belajar dan bertumbuh bersama Ananda. Salah satunya bisa dimulai dengan membaca buku The 5 Principles of Parenting dan menerapkan pelajaran yang sesuai dalam keseharian keluarga.
Penulis: Radifan Cakra — Tata Usaha (TU)
