Blog
September 22, 2026
Dari Ruang Kelas ke Ekonomi Negara, Apa yang Sebenarnya Diungkap Skor PISA Indonesia?

Kalau kita ingin memahami mengapa Indonesia masih sulit melompat ke ekonomi yang lebih produktif, kita perlu melihat satu tempat yang sering dianggap terlalu biasa: ruang kelas.
Pada PISA 2022, Indonesia mencatat nilai 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains. Sementara itu, rata-rata negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) masing-masing berada di angka 472, 476, dan 485. Di Asia Tenggara sendiri, Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand dalam sebagian besar perbandingan PISA 2022.
Baca juga: Saat Rasa Takut Salah Menghambat Anak Belajar, Kenali Growth Mindset untuk Membangun Keberanian Mencoba Anak
Angka ini bukan berarti anak Indonesia kurang cerdas. PISA bukan tes IQ. Tes ini mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuan untuk membaca, bernalar, menghitung, menilai bukti, hingga menyelesaikan masalah dalam situasi yang dekat dengan kehidupan nyata. Justru di sinilah persoalannya.
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah
Kita sering membicarakan pendidikan seolah-olah dampaknya selesai ketika anak lulus sekolah. Padahal, kemampuan membaca, numerasi, bernalar, dan memecahkan masalah merupakan bagian dari human capital atau modal manusia.
Kemampuan tersebut akan dibawa seseorang ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka yang memiliki kemampuan dasar yang kuat cenderung lebih mudah mempelajari teknologi baru, beradaptasi dengan perubahan pekerjaan, meningkatkan produktivitas, hingga menciptakan nilai baru.
Sebaliknya, jika sebagian besar anak meninggalkan pendidikan wajib tanpa kemampuan fondasional yang memadai, persoalannya tidak berhenti di sekolah. Masalah tersebut ikut terbawa ke dunia kerja.
Data PISA 2022 menunjukkan hanya sekitar 18% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika. Bandingkan dengan rata-rata OECD yang mencapai 69%. Dalam membaca, hanya sekitar 25% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih, dibandingkan 74% pada rata-rata OECD.
Ini bukan sekadar persoalan ranking. Ini menyangkut kapasitas manusia yang akan ikut membangun ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade ke depan.
Pendidikan dan ekonomi saling terhubung
Penelitian lintas negara menunjukkan adanya hubungan antara keterampilan kognitif dengan produktivitas, pendapatan, kualitas tenaga kerja, inovasi, kesempatan kerja, dan pembangunan manusia.
Hanushek dan Woessmann bahkan menemukan hubungan yang kuat antara keterampilan kognitif dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Tentu, hubungan ini tetap perlu dibaca secara hati-hati. Skor PISA yang tinggi tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi kaya. Kondisi ekonomi juga dipengaruhi kualitas institusi, kesehatan, stabilitas politik, infrastruktur, struktur industri, dan banyak faktor lainnya.
Jadi, hubungan antara pendidikan dan kemakmuran bukanlah hubungan sebab-akibat yang sederhana. Meski begitu, mekanismenya cukup masuk akal: pendidikan mendorong keterampilan, keterampilan meningkatkan produktivitas, dan produktivitas membuka ruang bagi inovasi. Pada akhirnya, inovasi menciptakan lebih banyak kesempatan ekonomi yang dapat berujung pada peningkatan kesejahteraan.
Karena itu, ketika kualitas pembelajaran dasar tertinggal, kita sebenarnya sedang menghadapi persoalan ekonomi jangka panjang.
Maka, guru bukan sekadar biaya negara
Kalau kita benar-benar serius ingin memperbaiki pendidikan, pembahasannya tidak bisa berhenti pada perubahan kurikulum, pembangunan gedung sekolah, atau digitalisasi saja.
Kita juga perlu berbicara tentang guru.
Guru yang baik membutuhkan pendidikan dan pelatihan yang baik. Mereka juga membutuhkan lingkungan kerja yang sehat, kepemimpinan sekolah yang kuat, sumber daya yang memadai, serta kesejahteraan yang cukup untuk menjalankan profesinya dengan baik.
Laporan PISA sendiri menempatkan kualitas guru, kepemimpinan sekolah, pemerataan sumber daya, literasi, numerasi, dan pemulihan pembelajaran sebagai area kebijakan penting.
Meningkatkan kesejahteraan guru bukan sekadar soal memberikan lebih banyak uang. Lebih dari itu, ini tentang membangun profesi pendidikan yang mampu menarik, mempertahankan, sekaligus mengembangkan orang-orang berkualitas.
Sebab pada akhirnya, teknologi memang bisa membantu proses belajar. Namun, kualitas manusia yang menggunakan teknologi tersebut tetap menjadi faktor penting dalam menentukan hasilnya.
Pertanyaan yang lebih besar
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, "Mengapa ranking pendidikan Indonesia rendah?"
Pertanyaan yang lebih penting justru, "Apakah sistem pendidikan kita benar-benar mampu mengubah potensi anak Indonesia menjadi kemampuan yang dibutuhkan untuk membangun masa depan?"
Data PISA memberikan sinyal bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Indonesia tidak kekurangan anak yang cerdas. Yang dibutuhkan adalah sistem yang lebih konsisten dalam mengubah potensi tersebut menjadi kemampuan membaca, bernalar, menghitung, memecahkan masalah, dan menerapkan pengetahuan.
Pendidikan bukan hanya investasi untuk anak. Pendidikan juga merupakan investasi untuk produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan sebuah negara.
Barangkali, kalau kita ingin mengubah ekonomi Indonesia dalam 20 tahun ke depan, tempat terbaik untuk memulainya bukan di ruang rapat perusahaan. Tempat itu adalah ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah Indonesia.
Penulis: Radifan Cakra — Tata Usaha (TU)
