Blog
September 22, 2026
Kenali Growth Mindset agar Anak Berani Mencoba, Belajar dari Kesalahan, dan Terus Berkembang

Pendidikan abad ke-21 menuntut kemampuan berbahasa yang jauh lebih luas daripada sekadar menghafal kosakata atau memahami tata bahasa. Dalam pembelajaran bahasa, khususnya Bahasa Inggris, siswa juga perlu punya keberanian untuk mencoba, melakukan kesalahan, lalu terus berlatih. Sayangnya, pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah Indonesia masih sering berfokus pada hasil akhir, seperti nilai ujian atau ketepatan penggunaan tata bahasa. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang justru takut salah ketika harus berbicara atau menulis dalam bahasa asing. Padahal, kesalahan merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar dan bisa menjadi langkah penting untuk berkembang.
Mengenal growth mindset dalam belajar bahasa
Psikolog Carol Dweck memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu pola pikir yang melihat kemampuan seseorang sebagai sesuatu yang bisa terus berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, dan proses belajar yang berkelanjutan (Pastuszek-Lipinska, 2023). Sebaliknya, individu dengan fixed mindset cenderung menganggap kemampuan sebagai bakat bawaan yang sulit diubah.
Dalam pembelajaran bahasa, pola pikir ini sering muncul lewat kalimat seperti, "Saya memang tidak berbakat bahasa Inggris," atau "Saya tidak bisa berbicara bahasa asing" (Lou & Noels, 2019). Sekilas mungkin terdengar sederhana, tetapi pola pikir seperti ini dapat membuat siswa berhenti mencoba. Padahal, kemampuan berbahasa tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh kesempatan untuk berlatih dan terus berkembang.
Apa kata penelitian?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan growth mindset cenderung lebih percaya diri, lebih gigih ketika menghadapi kesulitan, dan lebih aktif dalam proses pembelajaran bahasa. Salah satu penelitian menemukan bahwa growth mindset dapat berkontribusi terhadap pencapaian bahasa asing melalui peningkatan kepercayaan diri atau self-efficacy (Fathi et al., 2024), serta ketekunan dalam belajar atau grit (Derakhshan & Fathi, 2024).
Selain itu, kajian dalam jurnal System (2026) juga menegaskan bahwa keyakinan bahwa kemampuan bahasa dapat berkembang melalui latihan berkaitan positif dengan motivasi belajar, keterlibatan siswa, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan saat mempelajari bahasa kedua maupun bahasa asing.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan guru dan orang tua
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, guru dan orang tua sebenarnya bisa menerapkan growth mindset melalui langkah-langkah sederhana. Salah satunya dengan memberikan apresiasi pada proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya. Misalnya, daripada mengatakan, "Kamu pintar bahasa Inggris," guru bisa mengatakan, "Kamu menunjukkan usaha yang konsisten dalam berlatih." Cara ini membantu siswa memahami bahwa keberhasilan bukan semata-mata soal bakat, tetapi juga hasil dari proses dan usaha yang dilakukan secara konsisten.
Guru dan orang tua juga dapat membantu anak mengubah cara pandang terhadap kesalahan. Kesalahan saat berbicara, membaca, atau menulis dalam bahasa asing tidak harus dianggap sebagai kegagalan. Justru, kesalahan bisa menjadi umpan balik yang membantu anak mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Ketika anak berada dalam lingkungan belajar yang aman secara psikologis, mereka akan lebih berani mencoba dan aktif berpartisipasi tanpa terus dihantui rasa takut salah. Dengan begitu, proses belajar bahasa bisa terasa lebih positif dan memberi ruang bagi anak untuk berkembang.
Menyiapkan anak menjadi pembelajar sepanjang hayat
Penerapan growth mindset juga sejalan dengan arah pendidikan Indonesia yang semakin menekankan pembelajaran berpusat pada peserta didik, pengembangan kompetensi, serta penguatan karakter. Di tengah era globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, anak-anak tidak hanya perlu menguasai materi pelajaran, tetapi juga memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Pada akhirnya, kemampuan intelektual bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan dalam pembelajaran bahasa. Keyakinan bahwa diri sendiri mampu berkembang juga memiliki peran yang penting. Ketika anak memahami bahwa latihan, strategi yang tepat, dan ketekunan dapat membantu membangun kemampuan berbahasa, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.
Dari sinilah growth mindset menjadi lebih dari sekadar cara berpikir dalam belajar bahasa. Pola pikir ini dapat membantu anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat, bukan hanya ketika mempelajari bahasa asing, tetapi juga saat menghadapi berbagai hal baru dalam kehidupan.
Referensi:
- Fathi, J., Pawlak, M., Saeedian, S., & Ghaderi, A. (2024). Exploring factors affecting foreign language achievement: The role of growth mindset, self-efficacy, and L2 grit. Language Teaching Research.
- Lou, N. M., & Noels, K. A. (2019). Promoting growth in foreign and second language education: A research agenda for mindsets in language learning and teaching. System, 86, 102126.
- Derakhshan, A., & Fathi, J. (2024). Growth mindset and ideal L2 self as predictors of student engagement in EFL students: The mediating role of L2 grit. Porta Linguarum.
- Pastuszek-Lipinska, B. (2023). Dweck's Mindset Theory and the Teaching of Foreign Languages: Reflection from the Language Classroom.
- System Journal (2026). Breaking the either-or myth: How growth and fixed language mindsets interact to shape student engagement in EFL classrooms.
Penulis: Dyah Ayu Syafira, S.Psi [Anggota PPC (Presgo Psychology Center)]
